RSS

Ci(n)ta

.

……………..

Apakah itu kamu? Apakah itu dia?

Selama ini kucari tanpa henti

Apakah itu cinta? Apakah itu cita?

yang mampu melengkapi

lubang di dalam hati…..

 

Letto-Lubang di Hati

 

Well, sepenggal lirik dari Letto itulah yang menginspirasiku. Menyambung tulisanku kemarin tentang pencarian jati diri, tulisanku kali ini tidaklah jauh berbeda, masih mengenai gejolak emosi yang dialami remaja seusiaku.

Cinta, hingga kini tak seorangpun yang dapat mendeskripsikannya dengan jelas dan mendetail. Bahkan filsuf sekaliber Plato dan Aristoteles pun tidak. Memang cinta sulit untuk dimengerti, di saat bersamaan ia mampu memberikan dua perasaan berbeda yang bertolak belakang. Manis-pahit, suka-duka, dan seterusnya. Cita, menurutku adalah sebuah target yang ingin kita capai, dimana setelah kita mencapainya dapat dikatakan bahwa kita telah sukses. Ia mendorong kita untuk berusaha lebih keras dan pantang menyerah dalam menghadapi tantangan dalam hidup ini.

Harus kuakui, melihat sekelilingku, untuk sesaat aku ingin memiliki seseorang untuk berbagi cerita, menghabiskan waktu bersama, melupakan sejenak masalah-masalah di luar sana. Namun betulkah itu tadi merupakan keinginan tulus yang datang dari nuraniku ? Jika dipikir lagi, bukankah justru Allah SWT lah tempat paling tepat untuk bersandar ? Allah senantiasa berdialog dengan kita jika kita memperhatikan. Jika itu masih kurang masih ada orangtua dan sahabat yang tentu dengan senang hati membantu kesulitan kita. Memang, pada akhirnya aku akan mencari seseorang untuk mendampingi dan menguatkanku menghadapi beratnya hidup ini, tapi tidak saat ini.

Aku masih ingin mengejar citaku. Hingga pada saatnya kelak citaku itulah yang akan membahagiakanku dan anak istriku. Bukan berarti aku mengesampingkan masalah cinta, tetapi biarlah hal itu mengalir seiring perjalananku meraih mimpi.

 
Leave a comment

Posted by on July 8, 2011 in Uncategorized

 

Analogi Serat Dewaruci dalam Hidupku

 

 

Serat Dewaruci menceritakan perjalanan Bima mencari Dewaruci untuk mendapatkan kebenaran hakiki dan makna dari eksistensinya di dunia ini, yang dilambangkan dengan Tirta Perwitasari. Bima merasa gundah karena meskipun telah menguasai banyak ilmu dan kesaktian, dirinya merasa masih ada sesuatu yang kurang. Ya, pencarian jati diri. Itulah yang kurasakan sejak beberapa waktu lalu dan belum berakhir hingga saat ini, dan juga mungkin dirasakan oleh banyak remaja seusiaku di luar sana.

Hhh…, sudah lama ingin kutulis ini. Namun baru sekarang dapat kutulis. Ini hanyalah salah satu catatan kecilku dalam hidup yang sering diibaratkan sebagai ”mung mampir ngombe”. Tak banyak yang akan kutulis, sekedar menjadi pengingat-dan mungkin-penguat di saat ku dewasa ataupun kehilangan arah kelak, bahwa aku pernah mengambil sebuah keputusan dan berusaha untuk mencapainya. Aku telah memilih sebuah jalan dengan kesadaran penuh dan kesiapan hati akan kemungkinan-kemungkinan yang akan kuhadapi di masa depan. Seringkali kujumpai orang-orang yang mengatakan: “Kamu kenapa malah memilih untuk jadi seperti ini ?” atau “Kenapa kamu nggak mencoba untuk melakukan ini ?”, bahkan “Coba kamu ikuti langkah si itu, pasti kamu juga akan sukses.”

Tidak, kataku pada mereka. Aku hanya ingin melakukan apa yang dikatakan oleh nuraniku. Kesuksesan memiliki arti berbeda pada setiap orang. Aku hanya berharap bahwa apa yang kulakukan ini dapat mendatangkan barakah dariNya dan membawa manfaat bagi sesama. Aku bohong jika aku mengatakan bahwa aku sama sekali tidak memikirkan materi. Pada kenyataannya kelak insyaAllah aku akan menjadi kepala keluarga dan harus memberi nafkah kepada anak dan istriku. Oleh karena itulah, sesungguhnya aku juga telah memiliki rencana tentang masa depanku dan Tuhanlah yang menentukan hasil akhirnya. Aku hanya berusaha bersyukur dan memberikan yang terbaik dari yang kumiliki.

Kuputuskan untuk mengabdikan hidupku untuk kelestarian seni tradisi. Entah mengapa, seolah hatiku mengatakan bahwa inilah jalanku, dalam shalatku selalu kupanjatkan doa agar aku senantiasa diberi petunjuk serta kekuatan dalam menghadapi hidup ini. Apakah ini jawaban dari doaku atau bukan, wallahua’lam bisshawab. Kata-kata ”Tak apa-apa Nak, lakukan apa yang menurutmu benar dan membawa manfaat bagi orang disekitarmu.”, “Sekarang eyang tidak perlu khawatir karena ada yang akan meneruskan perjuangan eyang dan leluhurmu dulu.”, juga “Semangat Tok, zaman sekarang jarang ada anak muda yang peduli dengan seni tradisi.” selalu memotivasiku untuk terus maju.

Begitulah, pada akhirnya aku percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik bagi umatnya. Setiap orang merupakan individu yang berbeda, pun dengan jalan yang akan diambilnya. Tugas kita sebagai khalifah di bumi ini adalah memayu hayuning bawana, yang harus kita lakukan adalah bersyukur dan memberikan yang terbaik dari diri kita atas anugerahNya.

Ini hanyalah pendapatku, tetapi hidup adalah tentang mengerti diri sendiri dan orang lain, ketika kita telah memahami diri kita, maka kita akan tahu untuk apa kita dilahirkan di dunia ini.

 
Leave a comment

Posted by on July 5, 2011 in Uncategorized

 

Toleransi di Tengah Perbedaan, Penghargaan Terhadap Keberagaman

Sesungguhnya Tuhan menciptakan perbedaan di dunia agar dunia ini menjadi indah, penuh warna oleh kemajemukan. Bayangkan saja jika manusia diciptakan dengan sifat dan karakter yang sama, hidup akan menjadi monoton dan membosankan.

Namun melihat apa yang terjadi akhir-akhir ini, sudah selayaknya kita prihatin. Bangsa ini terus disibukkan oleh konflik horisontal yang tak kunjung reda. Bermacam konflik telah mendera republik ini sejak ia merdeka hampir 66 tahun yang lalu. Sulit rasanya untuk menjadi bangsa yang besar jika kita masih ribut dengan saudara kita sendiri. Permasalahan yang seharusnya dapat diselesaikan dengan kepala dingin justru menjadi pemicu perpecahan anak negeri. Kita melihat Pancasila sebagai sebuah ideologi bangsa -yang mengakui perbedaan dan menghargai keberagaman-telah kehilangan kesaktiannya. Apa yang dikedepankan masyarakat hari ini hanyalah kepentingan golongannya sendiri di atas kepentingan bersama, dengan mengesampingkan kemajemukan yang ada. Etnosentrisme semakin menguat di kalangan masyarakat. Jangan sampai kondisi ini kita biarkan begitu saja. Semakin lama, masalah akan semakin besar dan semakin sulit untuk diatasi. Begitulah, kriwikan dadi grojogan(masalah yang semula kecil, tetapi tidak dapat diatasi dengan tepat hingga menjadi besar) ibaratnya.

Indonesia memiliki banyak pulau yang dihuni oleh beragam suku bangsa, etnis, dan ras serta bahasa. Dari sanalah lahir kearifan-kearifan lokal yang sesungguhnya dapat membawa kita menjadi bangsa yang besar dan kuat. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukanlah sebuah pepesan kosong. Sebuah semboyan yang memiliki arti mendalam dalam menyikapi perbedaan dan keberagaman Indonesia yang diambil dari Kitab Sutasoma. Kita tidak dapat mengingkari fakta bahwa penduduk Indonesia berbeda satu sama lain. Diperlukan sebuah sikap saling pengertian antaranggota masyarakat dalam menghadapi gesekan-gesekan yang mungkin timbul oleh karena perbedaan tadi.

Sejatinya jika setiap orang mau berbesar hati mengakui dan mau menerima orang lain apa adanya, dunia ini akan terasa lebih nyaman untuk ditinggali oleh karena penghargaan masing-masing individu terhadap keberagaman. Tidak ada lagi konflik antaretnis, fanatisme berlebihan terhadap agama, hingga pada akhirnya menciptakan masyarakat yang harmonis. Dimana toleransi ada dalam setiap lubuk individu.

Perbedaan ada untuk dipahami, keberagaman harus disikapi dengan hati terbuka dan saling menghargai. Sesungguhnya hidup ini penuh warna, tetapi seringkali kita hanya melihat hitam dan putihnya saja.

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2011 in Uncategorized

 

Pelestarian Budaya dan Seni Tradisi sebagai Potensi Pariwisata

Menurut Koentjaraningrat yang telah dikuti oleh Idianto Muin kebudayaan berasal dari kata Sanksekerta buddayah yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti akal atau budi (Idianto Muin, 2006: 133). Koentjaraningrat mengacu pada pendapat Kluckhohn yang menggolongkan unsur pokok kebudayaan yang terdiri dari: bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian (Idianto Muin, 2006: 133-134).

Kesenian merupakan salah satu unsur budaya yang tedapat dalam masyarakat. Kesenian sendiri dibedakan atas kesenian modern dan tradisional, dimana kesenian tradisional masih dibagi lagi menjadi kesenian istana dan rakyat. Kesenian tradisional yang hingga kini masih menunjukkan eksistensinya (khususnya di Yogyakarta) yakni seni tari, karawitan, batik, wayang, dan beberapa kesenian lainnya. Tentunya kesenian-kesenian tadi harus dapat kita berdayakan sehingga dalam kegiatan berkesenian (tradisional) tidak semata-mata untuk melesetarikan keberadaannya saja, akan tetapi juga dapat menjadi pendongkrak perekonomian masyarakat.

Yogyakarta sebagai kota budaya telah lama melirik celah ini untuk kemudian dimanfaatkan menjadi salah satu penopang perekonomian daerah. Banyak pihak berusaha mengemas kesenian tradisional dengan rasa global yang dapat diterima wisatawan baik lokal maupun mancanegara tanpa meninggalkan nilai-nilai fundamental yang terkandung di dalam seni itu sendiri. Salah satu yayasan yang menjadi pelopor dan aktif berusaha mengangkat kesenian tradisional adalah Retno Aji Mataram.

Retno Aji Mataram adalah salah satu yayasan yang bekomitmen mengembangkan seni dan budaya yang dipimpin oleh K.R.T. Sunaryadi Maharsiwara berdomisili di Gedongkiwo Yogyakarta. Dalam penyelengaraan kegiatannya Retno Aji mataram menggalang kerja sama dengan Departemen Luar Negeri (sekarang Kementerian Luar Negeri Republik Indonsia) merintis dibukanya pelatihan seni tari, karawitan, pedalangan, batik, dan bahasa Indonesia yang diikuti oleh perwakilan dari Negara-negara Asia pasifik (Australia, Selandia Baru, Papuanugini, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Kamboja). Para peserta bertempat tinggal (kos) di rumah penduduk sekitar Yayasan, sehingga dapat menyelami kehidupan masyarakat Yogyakarta secara nyata. Mereka dilatih dan dididik selama tiga bulan, diberikan paket pelatihan yang praktis dan dapat dipentaskan/dipamerkan setelah dilatih selama tiga bulan. Pelatihan ini bertujuan agar para siswa yang telah mendapatkan pelatihan, setelah kembali ke negaranya dapat menyebarluskan kemampuan dan pengetahuannya. Program yang dirintis tahun 2004 ini diselenggarakan Retno Aji Mataram selama tiga tahun. Untuk keberlanjutannya hingga kini diselenggarakan oleh Taman budaya Yogyakarta. Program ini sangat efektif dan optimal. Dengan jadwal yang padat, secara substansional mereka dapat menguasai keterampilan dengan baik, dan dengan bertempat tinggal di rumah-rumah penduduk mereka akan dapat menghayati kehidupan orang Jawa Yogyakarta seutuhnya.

Selain itu saat ini Pemerintah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta tengah mengupayakan untuk menjadikan Kotagede sebagai salah satu potensi wisata. Bekerjasama dengan pihak-pihak terkait dan tentunya masyarakat Kotagede, pemerintah berusaha mengubah wajah Kotagede sekarang menjadi lebih tertata dan indah, dengan mengangkat kekhasan Kotagede yang pada masa Kerajaan Mataram Islam merupakan ibukota yang termahsyur.

Apabila program semacam ini ditangani dan dikembangkan dengan baik, diplomasi budaya dengan luar negeri akan semakin intens dan sangat besar pengaruhnya bagi pariwisata di Indonesia umumnya dan Yogyakarta khususnya, karena dengan semakin banyaknya orang asing yang mempelajari, memahami, dan menghayati budaya Indonesia, serta semakin positifnya image mereka terhadap budaya Indonesia akan semakin jatuh cinta terhadap Indonesia.

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2011 in Uncategorized

 

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

 
1 Comment

Posted by on March 13, 2010 in Uncategorized